Hikmah agung ini… Oleh-oleh ini… Adalah anugerah terindah yang dibawa Sang Insan Kamil, salawat dan salam Allah tercurah padanya. Oleh-oleh ini kita cicipi, sekurangnya, 5 kali sehari.

“Makanan” pembukanya adalah takbiratulihram ‘takbir pengharaman’; Haram makan, haram minum, haram semua urusan dunia…

Lalu… Alhamdulillah…kita ucapkan. Arrahmaan.. Arrahiim… kita sebutkan.

“Hamba-Ku memuji-Ku”, Allah membanggakan si hamba di hadapan para malaikat-Nya.

Kemudian… Maaliki yawmiddiin ‘Penguasa Hari Akhir’… kita akui kekuasaan-Nya, kita akui kehambaan diri…hamba! budak! pesuruh!

Dalam posisi itu, kita ajukan permohonan…
Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin
“Kami, budak hina ini, tidak menyembah apa pun kecuali pada-Mu”
“Kami, hamba penuh dosa ini, tidak meminta kepada siapa pun kecuali pada-Mu”

“Duhai hamba-Ku, sembahmu AKU terima. Duhai kekasih-Ku, apa yang kau mau…”

“Yang kami inginkan hanya satu Tuhan…”
“Anugerahi kami jalan yang istiqamah…”
“Jalan para hamba-Mu yang telah Kau beri nikmat…”
Jalan para nabi-Mu: pengabar jalan-Mu,
Jalan para ‘siddik’: pembenar jalan-Mu,
Jalan para ‘syuhada’: penyaksi jalan-Mu,
Jalan para ‘shaleh’: pemerbaik jalan-Mu

“Bukan jalan para perusak jalan-Mu”
“Bukan jalan para penyesat jalan-Mu”

Wahai Tuhan, kabulkanlah…

Diakhiri dengan menu penutup: prosesi tahiyat ‘kemuliaan’;
Duduk bersimpuh sebagai hamba, sebagai pesuruh…

Seperti saat Sang Insan Kamil bersimpuh di tepi batas semesta… Hanya bertirai vitrase; sekadar penghalang dari ‘Cahaya di atas cahaya’; yang bila tirai itu tersingkap luluh lantaklah semesta raya, bersatu kembali pada ‘wujud yang Ahad’…subhaanallaah..walhamdulillaah…wa laa ilaaha illa Allah…wallaahu akbar

Lalu…terjadilah dialog itu dan terus diulang oleh para hamba-Nya yang mengaku sebagai hamba-Nya dan tidak sombong dengan tidak mengaku sebagai hamba-Nya!

“Segala kemuliaan hanya layak disandang Allah Begitu pula, salawat, dan segala kebaikan hanya pantas untuk Allah”, demikian salam pembuka dari Sang Insan Kamil kepada ‘Cahaya di atas cahaya’.

Dari balik tirai terdengar jawaban… “Keselamatan untukmu wahai nabi dan rahmat serta berkah Allah tercurah pula untukmu”

Sang Insan Kamil menyambut, “Keselamatan semoga tercurah pada kami dan para abdi Allah yang shaleh…Sa(ha)ya bersaksi, hamba bersumpah; tidak ada tuhan kecuali Allah!”

Dari balik tirai terdengar jawaban…
“Dan Aku bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah ”

Kemudian, terjadilah dialog yang hanya diketahui Allah dan utusan-Nya…dan oleh-oleh itu bisa kita cicipi sekarang dalam takbiratul ihram, dalam menu pembuka dan penutup, serta dalam seluruh prosesi salat.

“Assalaatu mi’rajul mu’miniin ‘salat adalah mi’raj-nya kaum beriman’.”, demikian pesan Sang Insan Kamil.

Wallaahu a’lam…Hanya Tuhan yang tahu.