You are currently browsing the monthly archive for Januari 2009.

Hikmah agung ini… Oleh-oleh ini… Adalah anugerah terindah yang dibawa Sang Insan Kamil, salawat dan salam Allah tercurah padanya. Oleh-oleh ini kita cicipi, sekurangnya, 5 kali sehari.

“Makanan” pembukanya adalah takbiratulihram ‘takbir pengharaman’; Haram makan, haram minum, haram semua urusan dunia…

Lalu… Alhamdulillah…kita ucapkan. Arrahmaan.. Arrahiim… kita sebutkan.

“Hamba-Ku memuji-Ku”, Allah membanggakan si hamba di hadapan para malaikat-Nya.

Kemudian… Maaliki yawmiddiin ‘Penguasa Hari Akhir’… kita akui kekuasaan-Nya, kita akui kehambaan diri…hamba! budak! pesuruh!

Dalam posisi itu, kita ajukan permohonan…
Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin
“Kami, budak hina ini, tidak menyembah apa pun kecuali pada-Mu”
“Kami, hamba penuh dosa ini, tidak meminta kepada siapa pun kecuali pada-Mu”

“Duhai hamba-Ku, sembahmu AKU terima. Duhai kekasih-Ku, apa yang kau mau…”

“Yang kami inginkan hanya satu Tuhan…”
“Anugerahi kami jalan yang istiqamah…”
“Jalan para hamba-Mu yang telah Kau beri nikmat…”
Jalan para nabi-Mu: pengabar jalan-Mu,
Jalan para ‘siddik’: pembenar jalan-Mu,
Jalan para ‘syuhada’: penyaksi jalan-Mu,
Jalan para ‘shaleh’: pemerbaik jalan-Mu

“Bukan jalan para perusak jalan-Mu”
“Bukan jalan para penyesat jalan-Mu”

Wahai Tuhan, kabulkanlah…

Diakhiri dengan menu penutup: prosesi tahiyat ‘kemuliaan’;
Duduk bersimpuh sebagai hamba, sebagai pesuruh…

Seperti saat Sang Insan Kamil bersimpuh di tepi batas semesta… Hanya bertirai vitrase; sekadar penghalang dari ‘Cahaya di atas cahaya’; yang bila tirai itu tersingkap luluh lantaklah semesta raya, bersatu kembali pada ‘wujud yang Ahad’…subhaanallaah..walhamdulillaah…wa laa ilaaha illa Allah…wallaahu akbar

Lalu…terjadilah dialog itu dan terus diulang oleh para hamba-Nya yang mengaku sebagai hamba-Nya dan tidak sombong dengan tidak mengaku sebagai hamba-Nya!

“Segala kemuliaan hanya layak disandang Allah Begitu pula, salawat, dan segala kebaikan hanya pantas untuk Allah”, demikian salam pembuka dari Sang Insan Kamil kepada ‘Cahaya di atas cahaya’.

Dari balik tirai terdengar jawaban… “Keselamatan untukmu wahai nabi dan rahmat serta berkah Allah tercurah pula untukmu”

Sang Insan Kamil menyambut, “Keselamatan semoga tercurah pada kami dan para abdi Allah yang shaleh…Sa(ha)ya bersaksi, hamba bersumpah; tidak ada tuhan kecuali Allah!”

Dari balik tirai terdengar jawaban…
“Dan Aku bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah ”

Kemudian, terjadilah dialog yang hanya diketahui Allah dan utusan-Nya…dan oleh-oleh itu bisa kita cicipi sekarang dalam takbiratul ihram, dalam menu pembuka dan penutup, serta dalam seluruh prosesi salat.

“Assalaatu mi’rajul mu’miniin ‘salat adalah mi’raj-nya kaum beriman’.”, demikian pesan Sang Insan Kamil.

Wallaahu a’lam…Hanya Tuhan yang tahu.

Iklan

innaa a’thaynaaka alkawtsara
[108:1] Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni’mat yang banyak.

fashalli lirabbika wainhar

[108:2] Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah (sembelihlah hewan kurban)

inna syaani-aka huwa al-abtaru

[108:3] Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu (Muhammad) dialah yang terputus (dari rahmat Allah)


Alam raya adalah nikmat Allah,
Udara adalah nikmat Allah,
Sehat adalah nikmat Allah,
Mata adalah nikmat Allah,
Saya baca tulisan ini adalah nikmat Allah,
Maka nikmat Allah yang manakah yang hendak kamu dustai?
Jika tidak ada nikmat Allah yang mampu kamu ingkari,
Mengapa kamu tidak salat?
Mengapa kamu tidak mampu menyisihkan 2 atau 3 ribu perak perhari,
Sehingga ketika genap setahun kamu mampu berkurban?
Anggaplah kamu ‘membayar’ suplai oksigen seharga 2 atau 3 ribu perak perhari
Berapa kamu membeli bensin perhari?
Atau berapa ongkos angkotmu perhari?
Betapa murahnya harga bersyukur pada Tuhan.

Jika manusia itu fana,
dan memang ia fana,
mengapa ia menyebut dirinya AKU
dan menyebut Tuhannya ENGKAU?

Sub judul: Jalan Kematian Para Ksatria
Penulis: Pitoyo Amrih
Penerbit: Pinus
Tebal: 252 halaman
Cetakan: I, November 2006
Beli di: Palasari, Bandung

Buku ini merupakan cerita pewayangan yang dikemas dalam bentuk cerita pendek. Suatu bentuk penceritaan wayang yang menarik karena menampilkan pakem pewayangan dalam format sastra modern. Lakon utama dalam cerpen wayang ini adalah putra Bima (salah satu dari Pandawa lima), yaitu Antareja dan Antasena, dengan latar belakang situasi perang Bharata (Bharata Yudha). Kedua anak Bima ini memiliki kesaktian luar biasa. Antareja, sang penguasa daratan, mampu membunuh musuh hanya dengan menjilat jejak kaki sasaran. Sementara itu, Antasena, sang penguasa air,  walaupun jarang mengeluarkan kesaktiannya, tetapi dipercaya mampu membuat apapun menjadi kenyataan. Bayangkan bila kedua anak Bima itu mengikuti perang Bharata, tentu dalam sekejap pasukan Kurawa dan sekutunya akan sirna dan perang Bharata tidak akan terjadi. Oleh karena itu, Batara Guru, sang penguasa kayangan, membuat skenario untuk mencegah kedua anak Bima itu ikut dalam perang Bharata. Kresna, manusia setengah dewa, yang menjadi penasihat Pandawa diberi tugas Batara Guru untuk memastikan hal itu. Melalui cerpen wayang ini, kita akan mendapati bagaimana perang batin Kresna dan diskusi filosofis-sufistis antara Kresna dan Antareja serta Antasena. Kedua anak Bima itu telah memilih jalan kematian para ksatria sebelum perang Bharata terjadi.

“…Langkah saya adakah langkah kehidupan. Dari sebuah kelahiran menuju ke kematian. Dan kemudian sebenarnya juga merupakan sebuah kelahiran. Kelahiran pada langkah kehidupan selanjutnya…”==Antasena==

“…Sesuatu dikatakan naik, hanya bila sesuatu tadi berada di bawah…”

“Dan titik terendah diperlukan bagi setiap orang agar dia mampu melihat dirinya sendiri dan memaksanya untuk naik menjadikan sesuatu yang lebih tinggi.”

“…, pasang surut seseorang, naik turun kehidupannya, terkadang bisa melenakan. Membuatnya untuk berhenti mencari sesuatu yang lebih baik. Di sanalah titik terendah diperlukan, sebuat titik kehidupan yang akan memaksa seseorang untuk memperbaiki dirinya, dan tidak akan pernah berhenti untuk memperbaikinya…” == Antareja ==

%d blogger menyukai ini: