Wahai Salik,
Berhati-hatilah engkau di jalan Tuhanmu
Masih banyak perintang jalan yang lain
Kau sangka semua ‘karya manusia’ itu karya manusia?
Lalu, di mana kau tempatkan karya Tuhanmu?
Maha Suci Tuhan yang menjadikan manusia berkarya…
Wahai Salik, persangkaanmu itulah perintang jalanmu
Kau ingin ibadahmu disaksikan manusia…
Apakah tidak cukup Tuhanmu sebagai saksi?
Kau ingin memperoleh surga dengan ibadahmu
Layakkah rahmat Tuhanmu kau bayar dengan beribu tahun ibadahmu?
Bahkan satu matamu lebih berat daripada ribuan tahun ibadahmu
Wahai Tuhan ampuni kami, rahmati kami, maafkan kami

terinspirasi dari ad-Durr an-Nafiis (Mutiara yang Indah)
Karya Syekh Muhammad Nafis bin Idris Albanjari

Wahai para pencari jalan menuju Tuhan
Pelihara dirimu dari segala maksiat
Maksiat lahir
Maksiat batin
Lepaskan dirimu dari perintang jalan menuju Tuhanmu
Malas beribadah adalah perintang jalanmu
Lemah dalam beribadah karena urusan duniamu adalah perintang itu
Bosan dan puas atas ibadahmu adalah perintang jalanmu
Wahai Tuhan …
tiada daya dan kekuatan kami menuju jalan-Mu
hanya rahmat-Mu yang mampu menolong kami berjalan di jalan-Mu

terinspirasi dari ad-Durr an-Nafiis (Mutiara yang Indah)
Karya Syekh Muhammad Nafis bin Idris Albanjari

Hikmah agung ini… Oleh-oleh ini… Adalah anugerah terindah yang dibawa Sang Insan Kamil, salawat dan salam Allah tercurah padanya. Oleh-oleh ini kita cicipi, sekurangnya, 5 kali sehari.

“Makanan” pembukanya adalah takbiratulihram ‘takbir pengharaman’; Haram makan, haram minum, haram semua urusan dunia…

Lalu… Alhamdulillah…kita ucapkan. Arrahmaan.. Arrahiim… kita sebutkan.

“Hamba-Ku memuji-Ku”, Allah membanggakan si hamba di hadapan para malaikat-Nya.

Kemudian… Maaliki yawmiddiin ‘Penguasa Hari Akhir’… kita akui kekuasaan-Nya, kita akui kehambaan diri…hamba! budak! pesuruh!

Dalam posisi itu, kita ajukan permohonan…
Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin
“Kami, budak hina ini, tidak menyembah apa pun kecuali pada-Mu”
“Kami, hamba penuh dosa ini, tidak meminta kepada siapa pun kecuali pada-Mu”

“Duhai hamba-Ku, sembahmu AKU terima. Duhai kekasih-Ku, apa yang kau mau…”

“Yang kami inginkan hanya satu Tuhan…”
“Anugerahi kami jalan yang istiqamah…”
“Jalan para hamba-Mu yang telah Kau beri nikmat…”
Jalan para nabi-Mu: pengabar jalan-Mu,
Jalan para ’siddik’: pembenar jalan-Mu,
Jalan para ’syuhada’: penyaksi jalan-Mu,
Jalan para ’shaleh’: pemerbaik jalan-Mu

“Bukan jalan para perusak jalan-Mu”
“Bukan jalan para penyesat jalan-Mu”

Wahai Tuhan, kabulkanlah…

Diakhiri dengan menu penutup: prosesi tahiyat ‘kemuliaan’;
Duduk bersimpuh sebagai hamba, sebagai pesuruh…

Seperti saat Sang Insan Kamil bersimpuh di tepi batas semesta… Hanya bertirai vitrase; sekadar penghalang dari ‘Cahaya di atas cahaya’; yang bila tirai itu tersingkap luluh lantaklah semesta raya, bersatu kembali pada ‘wujud yang Ahad’…subhaanallaah..walhamdulillaah…wa laa ilaaha illa Allah…wallaahu akbar

Lalu…terjadilah dialog itu dan terus diulang oleh para hamba-Nya yang mengaku sebagai hamba-Nya dan tidak sombong dengan tidak mengaku sebagai hamba-Nya!

“Segala kemuliaan hanya layak disandang Allah Begitu pula, salawat, dan segala kebaikan hanya pantas untuk Allah”, demikian salam pembuka dari Sang Insan Kamil kepada ‘Cahaya di atas cahaya’.

Dari balik tirai terdengar jawaban… “Keselamatan untukmu wahai nabi dan rahmat serta berkah Allah tercurah pula untukmu”

Sang Insan Kamil menyambut, “Keselamatan semoga tercurah pada kami dan para abdi Allah yang shaleh…Sa(ha)ya bersaksi, hamba bersumpah; tidak ada tuhan kecuali Allah!”

Dari balik tirai terdengar jawaban…
“Dan Aku bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah “

Kemudian, terjadilah dialog yang hanya diketahui Allah dan utusan-Nya…dan oleh-oleh itu bisa kita cicipi sekarang dalam takbiratul ihram, dalam menu pembuka dan penutup, serta dalam seluruh prosesi salat.

“Assalaatu mi’rajul mu’miniin ’salat adalah mi’raj-nya kaum beriman’.”, demikian pesan Sang Insan Kamil.

Wallaahu a’lam…Hanya Tuhan yang tahu.

innaa a’thaynaaka alkawtsara
[108:1] Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni’mat yang banyak.

fashalli lirabbika wainhar

[108:2] Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah (sembelihlah hewan kurban)

inna syaani-aka huwa al-abtaru

[108:3] Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu (Muhammad) dialah yang terputus (dari rahmat Allah)


Alam raya adalah nikmat Allah,
Udara adalah nikmat Allah,
Sehat adalah nikmat Allah,
Mata adalah nikmat Allah,
Saya baca tulisan ini adalah nikmat Allah,
Maka nikmat Allah yang manakah yang hendak kamu dustai?
Jika tidak ada nikmat Allah yang mampu kamu ingkari,
Mengapa kamu tidak salat?
Mengapa kamu tidak mampu menyisihkan 2 atau 3 ribu perak perhari,
Sehingga ketika genap setahun kamu mampu berkurban?
Anggaplah kamu ‘membayar’ suplai oksigen seharga 2 atau 3 ribu perak perhari
Berapa kamu membeli bensin perhari?
Atau berapa ongkos angkotmu perhari?
Betapa murahnya harga bersyukur pada Tuhan.