
Sub judul: Jalan Kematian Para Ksatria
Penulis: Pitoyo Amrih
Penerbit: Pinus
Tebal: 252 halaman
Cetakan: I, November 2006
Beli di: Palasari, Bandung
Buku ini merupakan cerita pewayangan yang dikemas dalam bentuk cerita pendek. Suatu bentuk penceritaan wayang yang menarik karena menampilkan pakem pewayangan dalam format sastra modern. Lakon utama dalam cerpen wayang ini adalah putra Bima (salah satu dari Pandawa lima), yaitu Antareja dan Antasena, dengan latar belakang situasi perang Bharata (Bharata Yudha). Kedua anak Bima ini memiliki kesaktian luar biasa. Antareja, sang penguasa daratan, mampu membunuh musuh hanya dengan menjilat jejak kaki sasaran. Sementara itu, Antasena, sang penguasa air, walaupun jarang mengeluarkan kesaktiannya, tetapi dipercaya mampu membuat apapun menjadi kenyataan. Bayangkan bila kedua anak Bima itu mengikuti perang Bharata, tentu dalam sekejap pasukan Kurawa dan sekutunya akan sirna dan perang Bharata tidak akan terjadi. Oleh karena itu, Batara Guru, sang penguasa kayangan, membuat skenario untuk mencegah kedua anak Bima itu ikut dalam perang Bharata. Kresna, manusia setengah dewa, yang menjadi penasihat Pandawa diberi tugas Batara Guru untuk memastikan hal itu. Melalui cerpen wayang ini, kita akan mendapati bagaimana perang batin Kresna dan diskusi filosofis-sufistis antara Kresna dan Antareja serta Antasena. Kedua anak Bima itu telah memilih jalan kematian para ksatria sebelum perang Bharata terjadi.
“…Langkah saya adakah langkah kehidupan. Dari sebuah kelahiran menuju ke kematian. Dan kemudian sebenarnya juga merupakan sebuah kelahiran. Kelahiran pada langkah kehidupan selanjutnya…”==Antasena==
“…Sesuatu dikatakan naik, hanya bila sesuatu tadi berada di bawah…”
“Dan titik terendah diperlukan bagi setiap orang agar dia mampu melihat dirinya sendiri dan memaksanya untuk naik menjadikan sesuatu yang lebih tinggi.”
“…, pasang surut seseorang, naik turun kehidupannya, terkadang bisa melenakan. Membuatnya untuk berhenti mencari sesuatu yang lebih baik. Di sanalah titik terendah diperlukan, sebuat titik kehidupan yang akan memaksa seseorang untuk memperbaiki dirinya, dan tidak akan pernah berhenti untuk memperbaikinya…” == Antareja ==

3 comments
Comments feed for this article
3 April, 2009 pada 12:56 pm
sabdalangit
Wah, dilihat dari resumenya buku ini cukup menarik untuk dikaji maknanya. Terutama kutipan dari Antasena dan Antareja. Sy nderek ngangsu kawruh Mas Bahtiar. Matur nuwun sanget atas referensinya. Tinggal di mana mas, bisa rawuh di tempat mas herjuno, buat kumpul2 saja, mempererat tali silaturahmi.
salam sejati
sabdalangit’s web
6 April, 2009 pada 7:23 pm
bahtiarian
Matur nuwun mas sabdalangit, sudah mampir ke blog sederhanaku ini.
Tentang buku Antasena dan Antareja ini, sesungguhnya, saya temukan secara ‘tidak sengaja’. Saat sedang cari-cari buku tebal-tebal di Palasari, Bandung, eh pandangan saya ‘digerakkan’ untuk melihat deretan buku tipis dan tertuju pada novel pewayangan itu. Menarik… karena cerita wayang diungkap dalam bahasa novel. Memang sejak kecil saya ‘terkondisikan’ untuk membaca wayang dalam bentuk komik, sisipan majalah Ananda (majalah anak-anak tahun 80-an), karangan Jan Mintaraga (kalau tidak keliru). Dan tokoh kegemaran saya waktu itu ya Yudhistira sebab ia tokoh yang jujur dan berhati bersih. Hanya saja, setelah membaca Antasena dan Antareja itu, kok, pilihan tokoh favorit saya jadi berubah ya, he he he.
Matur nuwun undangannya. Insya Allah pada saatnya kita akan bertemu. Saya tunggu kabar dari panjenengan.
28 Mei, 2009 pada 3:34 am
suryaden
wayang memang takan pernah habis dan kering untuk di kupas dan dijemur sekalipun…